Tugas IBD
Nama : Leony Sasmita
Kelas : 1ID01
Npm : 33417307
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEHNIK INDUSTRI.
UNIVERSITAS GUNADARMA
PENGARUH
BUDAYA TERHADAP TEKNOLOGI INDUSTRI PADA BIDANG PERTANIAN
i.
PENDAHULUAN
Secara sederhana Ilmu Budaya Dasar adalah pengetahuan yang
diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang
konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan
kebudayaan.
Istilah llmu Budaya Dasar dikembangkan di Indonesia sebagai
pengganti istilah Basic Humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris
"The Humanities". Adapun istilah Humanities itu sendiri berasal dan
bahasa latin humanus yang bisa diartikan manusia, berbudaya dan halus. Dengan
mempelajari the htimanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih
manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan demikian bisa dikatakan
bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai yaitu nilai-nilai manusia
sebagai homo humanus atau manusia berbudaya. Agar supaya manusia bisa menjadi
humanus, mereka hams mempelajari ilmu yaitu the humanities disamping tidak
meninggalkan tanggungjawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri.
Untuk mengetahui bahwa Ilmu Budaya Dasar termasuk kelompok
pengetahuan budaya, lebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu
pengetahuan. Prof.Dr.Harsya Bachtiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan
dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu :
1. Ilmu-ilmu
Alamiah ( natural science )
Ilmu ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan
yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode
ilmiah. Caranya ialah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai
keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu
kualitas. Hasil analisis itu kemudian digeneralisasikan. Atas dasar ini lalu
dibuat prediksi . Hasil penelitiannya 100 % benar dan 100 % salah. Yang
termasuk kelompok ilmu-ilmu alamiah antara lain ialah astronomi, fisika, kimia,
biologi, kedokteran, mekanika.
2. Ilmu-ilmu Sosial
( social science )
Ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji
keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antar manusia. Untuk
mengkaji hal itu digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu
alamiah. Tetapi hash penelitiannya tidak mungkin 100 % benar, hanya mendekati
kebenaran. Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antar manusia itu tidak
dapat berubah dari saat ke saat. Yang termasuk kelompok ilmu-ilmu sosial antara
lain ilmu ekonomi, sosiologi, politik, demografi, psikologi, antropologi
sosial, sosiologi hukum, dsb.
3. Pengetahuan
budaya ( the humanities )
Pengetahuan budaya bertujuan untuk memahami dan mencari arti
kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal itu digunakan
metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan pemyataan-pemyataan yang bersifat
unik, kemudian diberi arti. Peristiwa-peristiwa dan pemyatan-pemyataan itu pada
umumnya terdapat dalam tulisan-tulisan., Metode ini tidak ada sangkut pautnya
dengan metode ilmiah, hanya mungkin ada pengaruh dari metode ilmiah.
Pengetahuan budaya (
The Humanities ) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup kcahlian (disiplin)
scni dan filsafat. Keahlian inipun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai
bidang kcahlian lain, seperti seni tari, seni rupa, seni musik, dll. Sedang
Ilmu Budaya Dasat ( Basic Humanities ) adalah usaha yang diharapkan dapat
memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang
dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan
perkataan lain Ilmu Budaya dasar menggunakan pengertian-pengertian yang berasal
dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran
dan kepekaan dalam mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Ilmu budaya dasar berbeda dengan pengetahuan budaya. Ilmu budaya
dasar dalam bahasa Inggris disebut dengan Basic Humanities. Pengetahuan budaya
dalam bahasa inggris disebut dengan istilah the humanities. pengetahuan budaya
mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk betbudaya ( homo humanus ),
sedangkan Ilmu budaya dasar bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai
pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan
untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan budaya. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi
yang banyak membawa perubahan terhadap kehidupan manusia baik dalam hal
perubahan pola hidup maupun tatanan sosial termasuk dalam bidang
Pertanian yang sering dihadapkan dalam suatu hal yang berhubungan langsung
dengan norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang bermukim dalam suatu
tempat tertentu.
Pengaruh sosial budaya dalam
masyarakat memberikan peranan penting dalam mencapai hasil pertanian yang
optimal. Perkembangan sosial budaya dalam masyarakat merupakan suatu tanda
bahwa masyarakat dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu perubahan
dalam proses berfikir. Perubahan sosial dan budaya bisa memberikan dampak
positif maupun negatif. Hubungan antara budaya dan pertanian sangatlah erat
hubungannya bahkan sejak zaman nenek moyang manusia telah mengenal bercocok
tanam dengan alat-alat tradisional.
ii.
PENGARUH SOSIAL BUDAYA TERHADAP
PERTANIAN
A.
Pengertian Pertanian
Pertanian adalah kegiatan
pemanfaatan sumber daya hayati
yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan
hidupnya. [1] Kegiatan
pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa
dipahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam (bahasa
Inggris: crop
cultivation) serta pembesaran hewan
ternak (raising),
meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan,
seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar ekstraksi
semata, seperti penangkapan ikan atau
eksploitasi hutan. Bagian terbesar penduduk
dunia bermata pencaharian dalam bidang- bidang di lingkup pertanian, namun
pertanian hanya menyumbang 4% dari PDB dunia. Sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan
dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor - sektor ini memiliki arti
yang sangat penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas
ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun
2002, bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja
bagi sekitar 44,3% penduduk
meskipun hanya menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto.
B.
Sosial Budaya dalam pertanian
Berdasarkan wujudnya,
kebudayaan dapat digolongkan atas
dua komponen utama:
1)
Kebudayaan Material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat
yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah
temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah
liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup
barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian,
gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
2)
Kebudayaan Nonmaterial
Kebudayaan
nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke
generasi. Kebudayaan masyarakat memiliki 7 unsur, yaitu peralatan dan
perlengkapan hidup, mata mencaharian dan system ekonomi, sistem kemasyarakatan,
bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, dan sistem kepercayaan.
Komponen-komponen pola budaya dominan meliputi wordview, activity orientation,
time orientation, human nature orientation, human nature orientation dan
perception of self.
Adapun penjelasannya dari komponen-komponen
pola budaya tersebut adalah antara lain sebagai berikut.
Ø Worldview
Pandangan terhadap dunia mengenai
pertanian terhadap alam semesta:
1)
Hubungan masyarakat pertanian dengan
alam semesta
a)
Subjugation: alam dikendalikan, dan
exploitasi
Pembukaan hutan
untuk kepentingan pertanian seperti kegiatan bercocok tanam . Akibat pembuakaan
lahan itu wilayah hutan menjadi sempit dan ahirnya menyebabkan kerusakan
ekosistem . dengan keadaan tersbut alas an yang pertama untuk lahan pertanian
ternyata secara tidak langsung mengekploitasi hutan .
b)
Cooperative : alam adalah sahabat,
sakral, tidak boleh dirusak
Budaya
masyarakat pertanian selalu ingin membuka lahan dengan cepat dan biaya murah
maka budaya membakar hutan menjadi pilihan utama masyarakat pertanian. Dengan
adanya perundang undangan tentang di tindak kerasnya perambahan hutan (illegal
logging) hendaknya merubah budaya perusakan hutan.
2)
Science & technology
Perbedaan cara pandang terhadap
teknologi dan cara memperoleh pengetahuan misalnya Budaya Barat teknologi
berperan penting, solusi permasalahan, meningkatkan kenyamanan dan
kesenangan hidup diperoleh secara empiris, berdasarkan pengamatan, percobaan.
Contoh pemanenan gandum yang selalu menggunakan alat berat ,pola piker
budaya barat yang meminimalisir pengeluaran dan efisiensi waktu. Budaya
Non-Barat teknologi sering bertentangan dengan struktur sosial dan nilai
tradisional. Budaya masyarakat pertanian Indonesia yang selalu terpaku pada
adat istiadat dan kedaan ekonominya yang belum tertata dengan baik, sehingga
penggunaan teknologi masih minim. Sebagai contoh penggnaan tenaga manusia dalam
pemanenan tebu di indo lampung perkasa .
3)
Materialism Kepemilikan merupakan
hal yang penting dalam pertanian
·
Menunjukkan kelas sosial
·
Uang sangat penting untuk
dapat memiliki sesuatu
Perbedaan orientasi kegiatan akan
mempengaruhi perbedaan pola pikir dan tingkah laku dalam budaya pertanian
·
Aktivitas dan Pekerjaan mendapatkan
uang.
·
Efficiency & Practicality
Pertanian modern ini akan akan
membedakan pola pikir , jika pertaniaan modern itu dalam pengolahan
pengolahan tanah hanya membutuhkan waktu lima jam \ hektar sedangkan pertanian
tradisional yang tidak memiliki modal dan budaya yang susah hilang harus
menggunakan cangkul untuk mengolah tanahnya berhari hari.
·
Progress dan change: Kemajuan dan
Perubahan adalah hal yang bagus
C.
Adat pola kebudayaan dapat ditinjau
dari beberapa aspek,yaitu:
Paul H. Landis juga mengemukakan
ciri-ciri kebudayaan tradisional yaitu:
·
Adaptasinya pasif,
·
Rendahnya tingkat invasi,
·
Kebiasaan hidup yang lamban,
·
Kepercayaan kepada takhayul,
·
Kebutuhan material yang bersahaja,
·
Rendahnya kesadaran terhadap
Standar moral yang kaku. Masyarakat
pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga
desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yang amat kuat yang
hakekatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan
dari masyarakat dimanapun ia hidup dicintainya serta mempunyai perasaan
bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota
masyarakat, karena beranggapan sama-sama sebgai masyarakat yang saling
mencintai saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap
keselamatan dan kebahagiaan bersama di dalam masyarakat.
Sektor pertanian sampai saat ini
masih merupakan yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Sektor pertanian juga
masih menjadi tumpuan hidup sebagian mesyarakat, terutama di pedesaan. Namun
produktivitas sektor pertanian masih relatif rendah, karena disamping
pengaruh faktor teknik produksi dan ekonomi, juga dipengaruhi oleh faktor
sosial budaya masyarakat yang belum mendukung perkembangan sektor pertanian
secara optimal.
D. Kepercayaan dan Norma Masyarakat
·
Faktor budaya yang dapat
mempengaruhi terjadinya isu kesenjangan gender,
·
Partisipasi penuh dalam kegiatan
reproduksi semua jenis usaha pertanian;
Tidak
diikutkannya kaum perempuan dalam partisipasi aktif di dalam kegiatan publik
dalam usaha pertanian;
iii.
PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PADA SEKTOR PERTANIAN
Sejarah adanya teknologi
pertanian di Indonesia tidak dapat terlepas dari sejarah Indonesia itu sendiri.
Indonesia yang pada era perang dunia I diduduki oleh kolonial Belanda menjadi
‘tempat’ pertanian pemerintah kolonial Hindia Belanda dalam hal pemenuhan
kebutuhan mereka. Untuk melaksanakan progamnya, pemerintah Hindia Belanda yang
sebelumnya mendatangkan tenaga ahli pertanian, karena adanya peperangan, mereka
mendapatan kesulitan untuk terus mengirim tenaga ahli dari Belanda. Untuk
mengatasi masalah tersebut, kemudian mereka membangun sekolah-sekolah pertanian
dan teknik untuk mencetak tenaga ahli di bidang pertanian. Mulai dari sinilah
teknologi pertanian mulai dan dapat berkembang di Indonesia.
Setelah merdeka, Indonesia
mandiri mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi tak terkecuali teknologi
pertanian. Kebijakan iptek telah ada sejak Pelita I tahun 1970. Penyuluhan pun
tetap menjadi suatu usaha perbaikan pertanian. Pada saat itu juga telah ada
lembaga yang bertugas dalam melakukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknik
seperti lembaga penelitian pemerintah non-departemen dibawah koordinasi
kemenristek. Namun pada saat itu, yang menjadi kendala dalam pengembangan teknologi
pertanian yaitu kurang terfokusnya penelitian, kurangnya dana, dan keterbatasan
tenaga ahli yang secara penuh konsentrasi pada penelitian tersebut. Pada tahun
60-an, teknologi guna meningkatkan produksi pertanian khususnya beras
dikenalkan dalam beberapa program seperti Demonstrasi Massal Swasembada Beras,
Intensifikasi Khusus, Supra Insus dan sebagainya. Melalui program tersebut
dikenalkan beberapa teknologi modern seperti benih unggul, pupuk buatan atau
pupuk kimia, irigasi dan lain-lain. Selain itu ditumbuhkan kesatuan petani
untuk bercocok tanam secara baik dan bergabung dalam kelompok tani untuk
mempermudah komunikasi antar petani dan pembinaannya (BPLPP, 1978; Tim Faperta
IPB, 1992). Pertanian, khususnya di Indonesia, mulai berkembang sekitar tahun
1975. Pertanian tersebut terbagi ke dalam tiga generasi. Generasi I yaitu
generasi pertanian yang menghasilkan bibit. Generasi II yaitu generasi
penghasil komoditas pertanian. Generasi III yaitu generasi yang meningkatkan
nilai tambah hasil pertanian atau dengan kata lain agroindustri. Ketiga
generasi tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri karena ketiganya saling
mendukung.
Revolusi Hijau yang kemudian
dilakukan Pemerintah Republik Indonesia tersebut demi tercapainya ketahanan
pangan secara tetap tidak sesuai dengan cita-cita. Indonesia hanya mampu
menjadi negara yang berswasembada pangan selama lima tahun yakni dari 1984
sampai 1989. Selain itu, kesenjangan ekonomi dan sosial juga menjadi dampaknya.
Kesenjangan terjadi di antara petani kaya dengan petani miskin, serta
penyelenggara negara tingkat pedesaan. Sistem ini dinilai hanya menguntungkan
nasib petani kaya pedesaan dan petinggi pemerintahan tingkat desa saja
sedangkan petani miskin tidak merasakan keuntungannya. Antiklimaks pun terjadi.
Kerusakan ekologi menjadi tidak terhindarkan karena pemakaian pestisida yang
terlampau sering dan banyak yang menjadikan hama kebal terhadap pestisida
sehingga hama-hama tersebut merusak produksi pertanian. Produksi pertanian pun
perlahan-lahan anjlok.
Dari kejadian tersebut dapat dikatakan, walaupun hanya
selama lima tahun dalam meningkatkan produksi pangan (swasembada), peran
teknologi sangat terlihat dan terasa. Bagaimanapun juga Indonesia pernah
menerapkan teknologi yang membawa Indonesia pada swasembada pangan. Hanya saja
sistem yang bekerja tidak didukung dengan pemahaman yang lebih para pelaku
kegiatan tani ini mengenai teknologi yang dialihteknologikan dan diterapkan
sehingga berdampak yang kurang baik bagi ekosistem dengan beragam efek
sampingnya di masa Revolusi Hijau tersebut.
Sekarang seiring
berkembangnya teknologi yang lebih mutakhir tidak menutup kemungkinan bahwa
Indonesia dapat mengulang prestasinya (swasembada pangan) dengan mengeliminasi
sebanyak mungkin dampak-dampak negatifnya. Terlebih lagi sekarang ini pertanian
tidak hanya dapat dilakukan dilahan luas untuk komoditas tertentu seperti
buah-buahan dan sayur-mayur. Teknologi green house, kultur jaringan,
nanoteknologi, dan tanam gantung dapat dijadikan alternatif. Sedangkan untuk
pangan pokok, selain meningkatkan mutu padi atau beras melalui bibit unggul,
dilakukan pula divesifikasi pangan dengan mengolah umbi-umbian dan serealia
menjadi makanan penghasil energi tubuh pengganti nasi. Itulah sejarah singkat
bagaimana teknologi pertanian muncul di Indonesia dan berperan bagi pertanian
Indonesia. Kita perlu mengambil pelajaran dari terjadinya Revolusi Hijau dan
swasembada pangan yang dilakukan Indonesia dahulu. Teknologi terus berkembang,
pertanian terus berlangsung, pengembangan keduanya pun harus selalu
disinkronisasikan agar pertanian yang kita perjuangkan ini dapat meraih
cita-cita ketahanan pangan Indonesia serta menyejahterakan bangsa Indonesia.
1) Dampak
Perkembangan Teknologi
a) Dampak
Positif Perkembangan Teknologi:
ü Memberikan
berbagai kemudahan
ü Mempermudah
meluasnya berbagai informasi
ü Bertambahnya
wawasan dan pengetahuan
b) Dampak
negative Perkembangan Teknologi:
ü Mempengaruhi
pola piker
ü Hilangnya
Budaya Tradisional
ü Banyak
menimbulkan berbagai kerusakan
2) Peran
Teknologi dalam Pembangunan Pertanian
Sejarah adanya teknologi
pertanian di Indonesia tidak dapat terlepas dari sejarah Indonesia itu sendiri.
Indonesia yang pada era perang dunia I diduduki oleh kolonial Belanda menjadi
‘tempat’ pertanian pemerintah kolonial Hindia Belanda dalam hal pemenuhan
kebutuhan mereka. Untuk melaksanakan progamnya, pemerintah Hindia Belanda yang
sebelumnya mendatangkan tenaga ahli pertanian, karena adanya peperangan, mereka
mendapatan kesulitan untuk terus mengirim tenaga ahli dari Belanda. Untuk
mengatasi masalah tersebut, kemudian mereka membangun sekolah-sekolah pertanian
dan teknik untuk mencetak tenaga ahli di bidang pertanian. Mulai dari sinilah
teknologi pertanian mulai dan dapat berkembang di Indonesia. Setelah merdeka,
Indonesia mandiri mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi tak terkecuali
teknologi pertanian. Kebijakan iptek telah ada sejak Pelita I tahun 1970.
Penyuluhan pun tetap menjadi suatu usaha perbaikan pertanian. Pada saat itu
juga telah ada lembaga yang bertugas dalam melakukan pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknik seperti lembaga penelitian pemerintah non-departemen
dibawah koordinasi kemenristek. Namun pada saat itu, yang menjadi kendala dalam
pengembangan teknologi pertanian yaitu kurang terfokusnya penelitian, kurangnya
dana, dan keterbatasan tenaga ahli yang secara penuh konsentrasi pada
penelitian tersebut.
Pada tahun 60-an, teknologi
guna meningkatkan produksi pertanian khususnya beras dikenalkan dalam beberapa
program seperti Demonstrasi Massal Swasembada Beras, Intensifikasi Khusus, Supra
Insus dan sebagainya. Melalui program tersebut dikenalkan beberapa teknologi
modern seperti benih unggul, pupuk buatan atau pupuk kimia, irigasi dan
lain-lain. Selain itu ditumbuhkan kesatuan petani untuk bercocok tanam secara
baik dan bergabung dalam kelompok tani untuk mempermudah komunikasi antar
petani dan pembinaannya (BPLPP, 1978; Tim Faperta IPB, 1992).
Pertanian, khususnya di
Indonesia, mulai berkembang sekitar tahun 1975. Pertanian tersebut terbagi ke
dalam tiga generasi. Generasi I yaitu generasi pertanian yang menghasilkan
bibit. Generasi II yaitu generasi penghasil komoditas pertanian. Generasi III
yaitu generasi yang meningkatkan nilai tambah hasil pertanian atau dengan kata
lain agroindustri. Ketiga generasi tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri
karena ketiganya saling mendukung.
Revolusi Hijau yang kemudian
dilakukan Pemerintah Republik Indonesia tersebut demi tercapainya ketahanan
pangan secara tetap tidak sesuai dengan cita-cita. Indonesia hanya mampu
menjadi negara yang berswasembada pangan selama lima tahun yakni dari 1984
sampai 1989. Selain itu, kesenjangan ekonomi dan sosial juga menjadi dampaknya.
Kesenjangan terjadi di antara petani kaya dengan petani miskin, serta
penyelenggara negara tingkat pedesaan. Sistem ini dinilai hanya menguntungkan
nasib petani kaya pedesaan dan petinggi pemerintahan tingkat desa saja
sedangkan petani miskin tidak merasakan keuntungannya. Antiklimaks pun terjadi.
Kerusakan ekologi menjadi tidak terhindarkan karena pemakaian pestisida yang
terlampau sering dan banyak yang menjadikan hama kebal terhadap pestisida
sehingga hama-hama tersebut merusak produksi pertanian. Produksi pertanian pun
perlahan-lahan anjlok.
Dari kejadian tersebut dapat
dikatakan, walaupun hanya selama lima tahun dalam meningkatkan produksi pangan
(swasembada), peran teknologi sangat terlihat dan terasa. Bagaimanapun juga
Indonesia pernah menerapkan teknologi yang membawa Indonesia pada swasembada
pangan. Hanya saja sistem yang bekerja tidak didukung dengan pemahaman yang
lebih para pelaku kegiatan tani ini mengenai teknologi yang dialih teknologikan
dan diterapkan sehingga berdampak yang kurang baik bagi ekosistem dengan
beragam efek sampingnya di masa Revolusi Hijau tersebut. Sekarang seiring
berkembangnya teknologi yang lebih mutakhir tidak menutup kemungkinan bahwa
Indonesia dapat mengulang prestasinya (swasembada pangan) dengan mengeliminasi
sebanyak mungkin dampak-dampak negatifnya. Terlebih lagi sekarang ini pertanian
tidak hanya dapat dilakukan dilahan luas untuk komoditas tertentu seperti
buah-buahan dan sayur-mayur. Teknologi green house, kultur jaringan,
nanoteknologi, dan tanam gantung dapat dijadikan alternatif. Sedangkan untuk
pangan pokok, selain meningkatkan mutu padi atau beras melalui bibit unggul,
dilakukan pula divesifikasi pangan dengan mengolah umbi-umbian dan serealia
menjadi makanan penghasil energi tubuh pengganti nasi.
Itulah sejarah singkat
bagaimana teknologi pertanian muncul di Indonesia dan berperan bagi pertanian
Indonesia. Kita perlu mengambil pelajaran dari terjadinya Revolusi Hijau dan
swasembada pangan yang dilakukan Indonesia dahulu. Teknologi terus berkembang,
pertanian terus berlangsung, pengembangan keduanya pun harus selalu
disinkronisasikan agar pertanian yang kita perjuangkan ini dapat meraih
cita-cita ketahanan pangan Indonesia serta menyejahterakan bangsa Indonesia.
3) Jenis-jenis
Teknologi Pertanian
Perkembangan
teknologi pertanian yang ada di Indonesia dewasa ini telah menunjukkan
peningkatan yang sangat pesat. Alat – alat yang di gunakan dari yang sederhana
sampai yang modern sekarang ini. Perkembangan teknologi pertanian di Indonesia
sebenarnya sudah sangat lama, berbagai alat pertanian seperti cangkul, garu,
waluku (alat bajak), sabit, hingga ani-ani mungkin bisa dijadikan contoh
teknologi pertanian yang pada zamannya sangat membantu kehidupan petani. Sejak
manusia mengembangkan mesin-mesin pertanian, perlahan tapi pasti, teknologi
pertanian yang sederhana mulai ditinggalkan karena dianggap tidak produktif.
Penggunaan handtraktor, tressure, hingga penggilingan padi dapat kita temui di
berbagai pedesaan di Indonesia. Berikut adalah daftar beberapa contoh alat/bahan dari hasil perkembangan teknologi
di bidang pertanian.
|
No
|
Teknologi
Tradisional
|
Teknologi
Modern
|
|
1.
|
Gerejag
|
Mesin Perontok Padi
|
|
2.
|
Semprotan air
|
Sprinkler
|
|
3.
|
Cangkul
|
Traktor
|
|
4.
|
Arit
|
Mesin Pemanen
|
|
5.
|
Keranjang
|
Chaser Bin
|
iv.
KESIMPULAN
Pola kebudayaan masyarakat desa
termasuk pola kebudayaan tradisional, yaitu merupakan produk dari benarnya
pengaruh alam terhadap masyarakat yang hidupnya tergantung pada alam.
Ciri-ciri kebudayaan tradisional
meliputi, adaptasinya pasif, rendahnya tingkat invasi, kebiasaan hidup yang
lamban, kepercayaan kepada takhayul, kebutuhan material yang bersahaja,
rendahnya kesadaran terhadap standar moral yang kaku.
Kepercayaan dan norma masyarakat
meliputi faktor budaya yang dapat mempengaruhi terjadinya isu kesenjangan
gender, partisipasi penuh dalam kegiatan reproduksi semua jenis usaha
tani, dan tidak diikutsertakannya kaum perempuan alam partisipasi aktif dalam
kegiatan publik dalam usaha pertanian.
Perkembangan
teknologi di dunia dimulai sejak zaman prasejarah diteruskan pada zaman yunani
dan romawi kuno. Di Indonesia, perkembangan teknologi khususnya dibidang
pertanian mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal tersebut terlihat
sejak zaman penjajahan Belanda yang telah mengembangkan pertaniannya di
Indonesia dengan menggunakan teknik-teknik becocok tanam serta penggunaan alat
yang cukup modern saat itu. Hingga sekarang ini, pengembangan teknologi
pertanian terus digalakkan seiring perkembangan zaman dan tuntutan kebutuhan.
Dampak perkembangan IPTEK terbagi menjadi 2 : yakni dampak positif dan dampak
negatif. Berbagai
pengaruh dari perkembangan teknologi baik dampak positif maupun negatif. Dampak
positif diantaranya memberikan berbagai kemudahan, mempermudah meluasnya
berbagai informasi, dan bertambahnya pengetahuan dan wawasan. Sedangkan dampak
negatifnya diantaranya mempengaruhi pola berpikir, hilangnya budaya
Tradisional, dan banyak menimbulkan berbagai kerusakan.
v.
DAFTAR
PUSTAKA
§ M. Habib Mustopo,”Manusia dan
Budaya,kumpulan essay.” Surabaya,Usaha Nasional.
§ Dr.M.Munandar Sulaeman,2005,”Ilmu Budaya
Dasar Suatu Pengantar”Bandung,PT Refika Aditama
Komentar
Posting Komentar